About

About

Adelia Marista FKM Undip 2013

Monday, March 24, 2014

Definisi Sehat Menurut WHO

Posted by Unknown On 6:33 AM No comments
Definisi sehat menurut WHO adalah “A state of complete physical, mental, and social well-being, and not merely the absence of disease.”. Jika diartikan, definisi sehat adalah sebuah keadaan sempurna, baik fisik, mental, maupun sosial, dan tidak hanya bebas dari penyakit dan cacat.

Sehat adalah kondisi normal seseorang yang merupakan hak hidupnya. Sehat berhubungan dengan hukum alam yang mengatur tubuh, jiwa, dan lingkungan berupa udara segar, sinar matahari, diet seimbang, bekerja, istirahat, tidur, santai, kebersihan serta pikiran, kebiasaan dan gaya hidup yang baik. Selama beberapa dekade, pengertian sehat masih dipertentangkan para ahli dan belum ada kata sepakat dari para ahli kesehatan maupun tokoh masyarakat dunia. Akhirnya World Health Organization (WHO) membuat defenisi universal yang menyatakan bahwa pengertian sehat adalah suatu keadaan kondisi fisik, mental, dan kesejahteraan sosial yang merupakan satu kesatuan dan bukan hanya bebas dari penyakit atau kecacatan.

WHO (World Health Organization)
Pengertian sehat menurut WHO adalah "Health is a state of complete physical, mental and social well-being and not merely the absence of diseases or infirmity". Menurut WHO, ada tiga komponen penting yang merupakan satu kesatuan dalam defenisi sehat yaitu:

1. Sehat Jasmani
Sehat jasmani merupakan komponen penting dalam arti sehat seutuhnya, berupa sosok manusia yang berpenampilan kulit bersih, mata bersinar, rambut tersisir rapi, berpakaian rapi, berotot, tidak gemuk, nafas tidak bau, selera makan baik, tidur nyenyak, gesit dan seluruh fungsi fisiologi tubuh berjalan normal.

2. Sehat Mental
Sehat mental dan sehat jasmani selalu dihubungkan satu sama lain dalam pepatah kuno "Jiwa yang sehat terdapat di dalam tubuh yang sehat" (Men Sana In Corpore Sano).

3. Sehat Spritual
Spritual merupakan komponen tambahan pada pengertian sehat oleh WHO dan memiliki arti penting dalam kahidupan sehari-hari masyarakat. Setiap individu perlu mendapat pendidikan formal maupun informal, kesempatan untuk berlibur, mendengar alunan lagu dan musik, siraman rohani seperti ceramah agama dan lainnya agar terjadi keseimbangan jiwa yang dinamis dan tidak monoton.



Referensi:
  • Chandra, Budiman. 2006. Ilmu Kedokteran Pencegahan Komunitas. Jakarta: EGC.

Saturday, March 22, 2014

Teori Penyebab Penyakit

Posted by Unknown On 10:59 PM No comments


Mengenai pandangan terhadap proses terjadinya atau penyebab penyakit telah dikemukakan beberapa konsep atau teori. Beberapa teori tentang kausa terjadinya penyakit yang pernah dikemukakan adalah:

1.      Contagion Theory
       Tokoh   : Girolamo Fracastoro (1483-1553)
       Teori     : "Penyakit ditularkan dari satu orang ke orang lain melalui zat penular, yaitu kontagion."

Teori ini mengemukakan bahwa terjadinya penyakit diperlukan adanya kontak antara satu orang dengan orang lainnya. Teori ini dikembangkan berdasarkan situasi penyakit pada masa itu, dimana penyakit yang melanda kebanyakan adalah penyakit menular yang terjadi akibat adanya kontak langsung. Teori ini bermula dikembangkan berdasarkan pengamatan terhadap epidemic dan penyakit lepra di Mesir.
      Fracastoro membedakan tiga jenis kontangion, yaitu :
a.    Jenis kontangion yang dapat menular melalui kontak langsung
       Misalnya : bersentuhan, berciuman, berhubungan seksual.
b.    Jenis kontangion yang menular melalui benda-benda perantara
       Misalnya : pakaian, handuk, sapu tangan.
c.    Jenis kontagion yang dapat menularkan dalam jarak jauh.

2.      Hippocratic Theory
      Tokoh   : Hippocrates (460-377 SM)
      Teori     : "Penyakit bervariasi atas dasar waktu dan tempat sehingga pada saat itu ia sebetulnya sudah                     tahu adanya pengaruh faktor alam atau lingkungan yang ikut menentukan terjadinya penyakit."
            
            Hippocrates yang dianggap sebagai Bapak Kedokteran Modern, telah berhasil membebaskan hambatan-hambatan filosofis pada zaman itu yang bersifat spekulatif dan superstitif (tahayul) dalam memahami kejadian penyakit. Ia mengemukakan teori tentang sebab musabab penyakit, yaitu:
     
      1. Penyakit terjadi karena adanyakontak dengan jasad hidup
      2. Penyakit berkaitan dengan lingkungan eksternal maupun interna seseorang.
          Teori ini dimuat dalam karyanya yang berjudul "On Airs, Waters, and Places."

Para pemikir kesehatan masyarakat yang dipelopori oleh Hippocrates mulai lebih mengarahkan kausa pada suatu faktor tertentu, Hippocrates mengatakan bahwa kausa penyakit berasal dari alam, seperti cuaca dan lingkungan yang ditunjuk sebagai sumber terjadinya penyakit. Teori ini mampu menjawab masalah penyakit yang ada pada waktu itu dan dipakai hingga tahun 1800-an. Di sisi lain, teori ini ternyata tidak mampu menjawab tantangan berbagai penyakit infeksi lainnya yang mempunyai rantai penularan yang lebih berbelit-belit.

3.      Miasmatic Theory
      Tokoh   : William Far
      Teori     : "Penyakit timbul karena sisa dari makhluk hidup yang mati membusuk, meninggalkan                                pengotoran udara dan lingkungan."

            Miasma atau miasmata berasal dari kata Yunani yang berarti something dirty (sesuatu yang kotor) atau bad air (udara buruk). Miasma dipercaya sebagai uap yang dihasilkan dari sisa-sisa makhluk hidup yang mengalami pembusukan, barang yang membusuk atau dari buangan limbah yang tergenang, sehingga mengotori udara, yang dipercaya berperan dalam penyebaran penyakit.
Teori ini menunjuk gas-gas busuk dari perut bumi yang menjadi kausa penyakit. Kelebihan dari teori ini adalah memiliki arah yang cukup spesifik dibanding dengan teori-teori sebelumnya.
Contoh pengaruh teori miasma adalah timbulnya penyakit malaria. Malaria berasal dari bahasa Italia, mal dan aria yang artinya udara yang busuk. Pada masa yang lalu, malaria dianggap sebagai akibat sisa-sisa pembusukan binatang dan tumbuhan yang ada di rawa-rawa. Penduduk yang bermukim di dekat rawa sangat rentang untuk terjadinya malaria karena udara yang busuk tersebut.
23 abad kemudian, berkat penemuan mikroskop oleh Anthony van Leuwenhoek, Louis Pasteur menemukan bahwa materi yang disebut miasma tersebut sesungguhnya merupakan mikroba, sebuah kata Yunani yang artinya kehidupan mikro (small livng).

4.      Epidemic Theory
Teori ini mencoba menghubungkan terjadinya penyakit dengan cuaca dan faktor geografi (tempat). Suatu zat organik dari lingkungan dianggap sebagai pembawa penyakit, misalnya air tercemar menyebabkan gastroenteritis. Teori ini diterapkan oleh John Snow dalam menganalisis terjadinya diare di London.

5.      Germ Theory
       Tokoh   : John Snow (1813-1858)
       Teori     : "Jasad renik (germ) dianggap sebagai penyebab tunggal penyakit."

Suatu kuman (mikroorganisme) ditunjuk sebagai kausa penyakit dari Germ Theory atau teori kuman ini. Teori ini sejalan dengan ditemukannya mikroskop yang mampu mengidentifikasi mikroorganisme. Kuman dianggap sebagai penyebab tunggal penyakit. Namun, ternyata teori ini mendapat tantangan karena sulit diterapkan pada berbagai penyakit kronik, misalnya penyakit jantung dan kanker, yang penyebab bukan kuman.

6.      Teori Multikausa
Disebutkan juga sebagai konsep multifactorial dimana teori ini menekankan bahwa suatu penyakit terjadi sebagai hasil dari interaksi berbagai faktor, misalnya faktor interaksi lingkungan yang berupa faktor biologis, kimiawi, dan sosial memgang peranan dalam terjadinya penyakit.
Sebagai contoh infeksi tuberklosis paru yang disebabkan oleh Invasimycobacterium tuberculosis pada jaringan paru, tidak dianggap sebagai penyebab tunggal terjadinya TBC. Disini TBC tidak hanya terjadi sebagai akibat keterpaparan dengan kuman TBC semata, tertapi secara multifaktorial berkaitan dengan faktor genetic, malnutrisi, kepadatan penduduk dan derajat kemiskinan. Demikian pula halnya dengan kolera yang disebabkan oleh tertelannya vibrio kolera ditambah dengan beberapa (multi) faktor resiko lainnya. 


Sumber:

Sunday, March 16, 2014

    1.      EPIDEMI
Epidemi adalah kenaikkan kejadian suatu penyakit yang berlangsung cepat dan dalam jumlah insidens yang diperkirakan. jenis epidemik yang di kenal:
       ·         Common sours (exposure) epidemics, karena adanya satu sumber penularan.
       ·         Propagated (progressive) epidemic, karena adanya banyak sumber penularan akibat person to person transmission. Contohnya : Filariasis

            Fenomena Filariasis :
Filariasis merupakan salah satu penyakit yang termasuk endemis di Indonesia. Seiring dengan terjadinya perubahan pola penyebaran penyakit di negara-negara sedang berkembang, penyakit menular masih berperan sebagai penyebab utama kesakitan dan kematian. Salah satu penyakit menular adalah penyakit kaki gajah (Filariasis). Penyakit ini merupakan penyakit menular menahun yang disebabkan oleh cacing filaria. Di dalam tubuh manusia cacing filaria hidup di saluran dan kelenjar getah bening (limfe), dapat menyebabkan gejala klinis akut dan gejala kronis. Penyakit ini ditularkan melalui gigitan nyamuk. Akibat yang ditimbulkan pada stadium lanjut (kronis) dapat menimbulkan cacat menetap seumur hidupnya berupa pembesaran kaki (seperti kaki gajah) dan pembesaran bagian bagian tubuh yang lain seperti lengan, kantong buah zakar, payudara dan alat  kelamin wanita.
            Di Indonesia penyakit kaki gajah pertama kali ditemukan di Jakarta pada tahun 1889. Berdasarkan rapid mapping kasus klinis kronis filariasis tahun 2000 wilayah Indonesia yang menempati ranking tertinggi kejadian filariasis adalah Daerah Istimewa Aceh dan Propinsi Nusa Tenggara Timur dengan jumlah kasus masing-masing 1908 dan 1706 kasus kronis. Menurut Barodji dkk (1990 –1995) Wilayah Kabupaten Flores Timur merupakan daerah endemis penyakit kaki gajah yangdisebabkan oleh cacing Wuchereria bancrofti dan Brugia timori. Selanjutnya oleh Partono dkk (1972) penyakit kaki gajah ditemukan di Sulawesi. Di Kalimantan oleh Soedomo dkk (1980) Menyusul di Sumatra oleh Suzuki dkk (1981) Sedangkan penyebab penyakit kaki gajah yang ditemukan di Sulawesi, Kalimantan dan Sumatra tersebut adalah dari spesies Brugia malayi.


            Filariasis merupakan jenis penyakit reemerging desease, yaitu penyakit yang dulunya sempat ada, kemudian tidak ada dan sekarang muncul kembali. Kasus penderita filariasis khas ditemukan di wilayah dengan iklim sub tropis dan tropis (Abercrombie et al, 1997) seperti di Indonesia. Filariasis pertama kali ditemukan di Indonesia pada tahun 1877, setelah itu tidak muncul dan sekarang belum diketahui bagaimana perkembangannya. Filariasis tersebar luas hampir di seluruh Propinsi di Indonesia. Berdasarkan laporan dari hasil survei pada tahun 2000 yang lalu tercatat sebanyak 1553 desa di 647 Puskesmas tersebar di 231 Kabupaten 26 Propinsi sebagai lokasi yang endemis, dengan jumlah kasus kronis 6233 orang. Upaya pemberantasan filariasis tidak bisa dilakukan oleh pemerintah semata. Masyarakat juga harus ikut memberantas penyakit ini secara aktif. Dengan mengetahui mekanisme penyebaran filariasis dan upaya pencegahan, pengobatan serta rehabilitasinya.

   2.      PANDEMI
Pandemi adalah Penyakit yang berjangkit menjalar ke beberapa Negara atau seluruh benua. Contohnya : H1N1 2009 (Flu Babi)

Fenomena Pandemi :
Virus flu A/H1N1 muncul di Meksiko pada bulan Maret, 2009 dan menyebar ke seluruh dunia pada kecepatan yang belum pernah terjadi sebelumnya, jauh lebih cepat daripada pandemi lainnya dalam sejarah. Menurut Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), melewati pandemi lainnya yaitu memerlukan lebih dari enam bulan untuk menyebar secara luas, sedangkan penyebaran virus H1N1 hanya memerlukan waktu kurang dari enam minggu.
Sekarang penyebaran H1N1 global telah mereda di sebagian besar wilayah, oleh karena itu, tetap harus menggunakan kesempatan ini untuk mengambil keuntungan dan belajar dari pengalaman.
Kita juga tidak lupa bahwa wabah flu burung H5N1 di antara unggas bisa memburuk dari waktu ke waktu menjadi pandemi pada manusia yang lebih parah daripada pandemi H1N1. Pada tahun 2009, ada 72 kasus H5N1 pada manusia, dengan 32 kematian. Ini merupakan 44 persen tingkat kematian. Menurut data WHO, daerah di mana kasus H5N1 manusia berkembang biak juga daerah di mana virus H1N1 menyebar. Kita perlu terus memantau situasi H5N1. Negara dapat bekerja sama untuk mengembangkan suatu sistem yang efektif dalam pengawasan dan pelaporan penyakit di setiap daerah yang berisiko tinggi. Hal ini khususnya penting ketika keseluruhan kapasitas dan mutu kesehatan hewan dan pelayanan kesehatan masyarakat tetap rendah di banyak daerah berisiko tinggi.

   3.      ENDEMIK
Endemik adalah penyakit menular yang terus menerus terjadi di suatu tempat atau prevalensi suatu penyakit yang biasanya terdapat di suatu tempat.

            Fenomena endemik:
            Penyakit yang umum terjadi pada laju yang konstan namun cukup tinggi pada suatu populasi disebut sebagai endemik, contoh penyakit endemik adalah DBD.
Musim penghujan, serangan penyakit demam berdarah rentan terjadi di sejumlah daerah di Kota Pekalongan. Termasuk di Kelurahan Kandang Panjang, Kecamatan Kota Pekalongan Utara. Warga Kandang Panjang mulai mengeluhkan indikasi demam berdarah (DB) setelah beberapa warganya dilarikan ke rumah sakit akibat DB.
Dinas Kesehatan Kota Pekalongan hingga bulan Oktober 2013 telah mencatat terjadi 56 kasus demam berdarah (DB). Dua di antaranya meninggal. Dwi mengatakan, ada lima titik rawan yang menjadi endemik nyamuk demam berdarah. Lima daerah ini antara lain Kelurahan Medono, Kauman, Bendan, Pasir Sari, dan Kandang Panjang. “Menjelang musim hujan warga agar waspada, kubur barang-barang yang mampu menampung air,” kata dia.
Demam berdarah disebabkan karena virus yang masuk ke alirah darah melalui vektor, antara lain gigitan nyamuk Aedes aegypty. Orang yang terkena demam berdarah menunjukkan gejala demam tinggi, pusing dan bercak merah. Sejauh ini belum ada obat yang spesifik melawan penyakit ini. Pasien biasanya hanya diberi cairan tubuh untuk menghindari dehidrasi akibat demam dan muntah. Sementara untuk obat biasanya hanya untuk menghilangkan nyeri dan meredakan demam.

4.      SPORADIK
Kejadian ini relative berlangsung singkat umumnya berlangsung di beberapa tempat dan pada waktu pengamatan masing-masing kejadian tidak saling berhubungan, misalnya dalam proses penyebarannya.
Sepanjang tahun 2010 NE (Necrotic enteritis) yang bersifat sporadik seringkali dapat terjadi pada peternakan ayam, baik pada peternakan ayam broiler (pedaging), petelur komersial maupun breeder, dapat terjadi bila mana tidak digunakannya antibiotika yang berfungsi sebagai growth promoters atau problem infeksi oleh Emeria spp. Di Indonesia kasus NE yang dijumpai pada ayam menyebabkan naiknya angka kematian ayam dan diare.
Penyakit NE merupakan salah satu penyakit yang paling sering muncul dan mengancam industri pedaging di seluruh dunia. Bahkan Barnes (2000) telah melaporkan bahwa penyakit ini mempengaruhi lebih dari 40 % ternak broiler komersil akhir-akhir ini.
Secara ilmiah penyakit NE disebabkan oleh toksin dari bakteri jenis Clostridium perfringens yang berkembang pada usus unggas.  Toksin yang dihasilkan tersebut mengakibatkan terjadinya kerusakan lapisan usus sehingga menyebabkan infeksi klinis dan subklinis akut.  Sumber infeksi bisa berasal dari kontaminasi air, pakan, kotoran, dan lingkungan.  Gejala klinis yang paling sering ditemukan adalah terjadi peningkatan kematian unggas yang mendadak mendadak. Unggas yang terlihat sehat dapat mati dalam hitungan jam. 
Beberapa faktor yang dapat mempengaruhi timbulnya penyakit ini diantaranya adanya kerusakan pada mukosa usus  (misalnya akibat dari  infeksi parasit, koksidia, salmonella, dan E colli), gangguan imunosupresi (misalnya akibat dari penyakit gumboro, marek, dan mycotoxin), perubahan pola pemberian pakan yang secara tiba-tiba (dari pakan starter menjadi pakan grower, tekstur atau komposisi pakan yang berubah), serta pemberian tipe ransum yang  tidak mudah dicerna.  Faktor-faktor tersebut dapat mengganggu mikroflora alami di usus dan dapat  menciptakan lingkungan yang nyaman bagi pertumbuhan Clostridium.
Beberapa pendekatan yang dapat dilakukan untuk mengurangi risiko ayam terkena penyakit NE diantaranya dengan menjaga tingkat biosekuriti dan higienitas yang baik di peternakan, pengendalian koksidiosis  secara optimal, dan menjaga kesehatan usus dengan memberikan produk-produk yang dapat memodulasi mikroflora usus (prebiotik). Jangan ketinggalan meminimalkan tingkat stres pada ayam yang dapat menyebabkan perubahan lingkungan usus.

Sumber :
Infovet. 2003. Necrotic Enteritis Bukan Penyakit Baru. Infovet Ed. 105. April   2003.


Epidemiology is Core of Public Health

Posted by Unknown On 4:07 AM No comments


Dewasa ini dapat kita lihat perkembangan epidemiologi sebagai suatu bidang ilmu yang mempelajari keadaan dan sifat karakteristik suatu kelompok tertentu, dengan memperhatikan sesuatu yang mempengaruhi derajat kesehatan dan kehidupan sosialnya. Definisi Epidemiologi sendiri menurut berbagai sumber adalah:
  1. Jika ditinjau dari asal kata, Epidemiologi berasal dari bahasa Yunani yang terdiri dari 3 kata dasar yaitu ''epi'' yang berarti ''pada'' atau ''tentang'', ''demos''yang berati ''penduduk'' dan kata terakhir adalalah ''logos'' yang berarti ''Ilmu Pengetahuan''. Jadi, Epidemiologi adalah ilmu yang mempelajari tentang penduduk.
  2. Dalam pengertian modern pada saat ini, Epidemiologi adalah “Ilmu yang mempelajari tentang Frekuensi dan Distribusi (Penyebaran) masalah kesehatan pada sekelompok orang/masyarakat serta Determinannya (faktor- faktor yang mempengaruhinya). Suatu ilmu yang awalnya mempelajari timbulnya, perjalanan, dan pencegahan pada penyakit infeksi menular. Tapi dalam perkembangannya hingga saat ini masalah yang dihadapi penduduk tidak hanya penyakit menular saja, melainkan juga penyakit tidak menular, penyakit degenaratif, kanker, penyakit jiwa, kecelakaan lalu lintas, dan sebagainya.
  3. Menurut Greenwood (1934), Epidemiologi mempelajari tentang penyakit dan segala macam kejadian yang mengenai kelompok (herd) penduduk. Kelebihannya adalah adanya penekanan pada kelompok penduduk yang mengarah kepada Distribusi suatu penyakit.
  4. Brian Mac Mahon (1970), Epidemiology is the study of the distribution and determinants of disease frequency in man. Epidemiologi adalah studi tentang penyebaran dan penyebab frekuensi penyakit pada manusia dan mengapa terjadi distribusi semacam itu. Di sini sudah mulai menentukan distribusi penyakit dan mencari penyebab terjadinya distribusi dari suatu penyakit.
  5. Wade Hampton Frost (1972), mendefinisikan Epidemiologi sebagai suatu pengetahuan tentang fenomena massal (Mass Phenomen) penyakit infeksi atau sebagai riwayat alamiah (Natural History) penyakit menular. Di sini tampak bahwa pada waktu itu perhatian epidemiologi hanya ditujukan kepada masalah penyakit infeksi yang terjadi mengenai masyarakat atau massa.
  6. Anders Ahlbom & Staffan Norel (1989), Epidemiologi adalah ilmu pengetahuan mengenai terjadinya penyakit pada populasi manusia.
  7. Gary D. Friedman (1974), Epidemiology is the study of disease occurance in human populations.
  8. H. Abdel R. Omran ( 1974 ), Epidemiologi adalah suatu ilmu mengenai terjadinya dan distribusi keadaan kesehatan, penyakit dan perubahan pada penduduk, begitu juga determinannya serta akibat-akibat yang terjadi pada kelompok penduduk.
  9. Barbara Valanis, Epidemiology is term derived from the greek languang (epid = upon; demos = people; logos = science).
  10. Last (1988), Epidemiology is study of the distribution and determinants of health – related states or events in specified population and the application of this study to control of problems.
  11. Elizabeth Barrett, Epidemiology is study of the distribution and causes of diseases.
  12. Hirsch (1883), Epidemiologi adalah suatu gambaran kejadian, penyebaran dari jenis–jenis penyakit pada manusia pada saat tertentu di berbagai tempat di bumi dan mengkaitkan dengan kondisi eksternal.
  13. M. Judith S. Mausner; Anita K. Bahn, Epidemiology is concerned with the extend and types of illness and injuries in groups of people and with the factors which influence their distribution.
  14. Robert H. Fletcher ( 1991 ), Epidemiologi adalah disiplin riset yang membahas tentang distribusi dan determinan penyakit dalam populasi.
  15. Lewis H. Rohf; Beatrice J. Selwyn, Epidemiology is the description and explanation of the differences in accurence of events ofmedical concern in subgroup of population, where the population has been subdivided according to some characteristic believed to influence of the event.
  16. Lilienfeld (1977), Epidemiologi adalah suatu metode pemikiran tentang penyakit yang berkaitan dengan penilaian biologis dan berasal dari pengamatan suatu tingkat kesehatan populasi.
  17. Moris (1964), Epidemiologi adalah suatu pengetahuan tentang sehat dan sakit dari suatu penduduk. 
  18. CENTER OF DISEASE CONTROL (CDC) 2002. Adapun definisi Epidemiologi menurut CDC 2002, Last 2001, Gordis 2000 menyatakan bahwa EPIDEMIOLOGI adalah “Studi yang mempelajari distribusi dan determinan penyakit dan keadaan kesehatan pada populasi serta penerapannya untuk pengendalian masalah-masalah kesehatan”. Dari pengertian ini, jelas bahwa Epidemiologi adalah suatu studi, dan studi itu adalah riset.
  19. WHO, “Studi tentang distribusi dan determinan kesehatan yang berkaitan dengan kejadian di populasi, dana aplikasi dari studi untuk pemecahan masalah kesehatan.”

Berbagai definisi dan pengertian telah dikemukakan oleh para ahli epidemiologi yang pada dasarnya memiliki persamaan pengertian “Epidemiologi merupakan suatu cabang ilmu kesehatan untuk menganalisis sifat dan penyebaran berbagai masalah kesehatan dalam suatu penduduk tertentu, mempelajari penyebab timbulnya masalah dan gangguan kesehatan serta pencegahan maupun penanggulangannya.”
Epidemiologi adalah inti dari ilmu kesehatan masyarakat karena pada dasarnya ilmu kesehatan masyarakat mempelajari tentang bagaimana supaya orang yang sehat tidak jatuh sakit serta mempelajari tentang bagaimana suatu penyakit bisa terjadi dan bagaimana penanggulangannya.
Pernyataan diatas dibuktikan oleh seorang tokoh, B. B. Gerstman,  yang mengatakan bahwa “Epidemiology is a core of Public Health Science”, beliau menyatakan demikian dalam buku berjudul “Epidemiology Kept Simple: An Introduction to Classic and Modern Epidemiology”. Mengapa bisa epidemiologi sebagai inti ilmu kesehatan masyarakat? Karena epidemiologi mempelajari penyakit dari mulai faktor hingga penyebarannya. Hal ini memperkuat pernyataan-pernyataan yang sudah ada bahwa ilmu epidemiologi adalah inti dari ilmu kesehatan masyarakat.

Sumber :
Budiarto, Eko. Pengantar Epidemiologi. Jakarta: Penerbit Buku Kedokteran EGC, 2003.
Bustan, MN. Pengantar Epidemiologi. Jakarta: Rineka Cipta, 2002.
Noor, Nur Nasry. Epidemiologi. Jakarta: Rineka Cipta, 2008.
http://mutiafitayuana.blogspot.com/. Diakses pada tanggal 12 Maret 2014.

Mengenal Epidemiologi Malaria

Posted by Unknown On 4:06 AM 1 comment


Malaria merupakan penyakit infeksi yang disebabkan oleh parasit Plasmodium yang hidup dan berkembang biak dalam sel darah merah manusia. Parasit ini ditularkan oleh nyamuk malaria (Anopheles) betina. Gejala yang timbul akibat penyakit malaria ini disebut trias malaria, antara lain demam, menggigil, dan berkeringat. Selain 3 gejala ini, ada pula gejala lokal seperti sakit kepala, mual, muntah, diare, nyeri otot, dan pegal-pegal.
Indonesia merupakan salah satu negara di dunia di mana malaria masih merupakan masalah kesehatan masyarakat yang menonjol. Data WHO tahun 2010 menunjukkan, Indonesia menyumbang sekitar 224 ribu dari 24 juta kasus malaria sedunia.

A.    Batasan Epidemiologi

1.      Frekuensi Masalah
Wilayah Indonesia Timur merupakan salah satu daerah dengan tingkat kejadian malaria tertinggi. Menurut Menteri Kesehatan, Nafsiah Mboi, jumlah malaria pada tahun 2012 mencapai 417 ribu kasus di Indonesia. Hampir tiga per empat kasusnya berasal dari wilayah Indonesia bagian timur, seperti Papua, Papua Barat, dan Nusa Tenggara Timur.
Jumlah kasus yang diterima pemerintah di sepanjang tahun 2013 yakni sebanyak 93,2 persen. Dari 93,2 persen konfirmasi kasus malaria yang ada di Indonesia sepanjang tahun 2013, Papua memiliki angka kasus malaria terbesar, yaitu 42,65 persen.

2.      Penyebaran Masalah
Masyarakat bertempat tinggal di pedesaan yang memiliki tingkat pengeluaran per kapita rendah menjadi sasaran penyakit malaria.  Studi menemukan bahwa petani dan nelayan memiliki risiko lebih besar untuk tertular malaria dibandingkan dengan pekerjaan lainnya. Secara umum, kejadian malaria lebih tinggi pada masyarakat dengan tingkat sosial ekonomi rendah. Namun, kejadian malaria tidak terpengaruh oleh status pendidikan. Secara geografis, hasil penelitian menunjukan bahwa kasus malaria umum lebih tinggi di pedesaan dibandingkan dengan daerah perkotaan. Jumlah desa risiko tinggi malaria lebih banyak pada musim kering dibandingkan dengan musim hujan.

3.      Faktor Determinan
Faktor lingkungan umumnya sangat dominan sebagai penentu kejadian malaria pada suatu wilayah endemis malaria. Keadaan wilayah Indonesia Timur menjadi salah satu faktor penyebaran kasus malaria. Kondisi wilayah kepulauan yang luas yang relatif tidak mudah dijangkau antara daerah satu dengan daerah lainnya membuat penyebaran malaria sulit dikendalikan. Hal ini ditambah lagi dengan penduduknya yang tinggal terpencil dan menyebar di wilayah tersebut. Malaria juga lebih tinggi di wilayah zona perbatasan. Hal ini disebabkan kemungkinan oleh cross-borders migrasi.
Faktor lainnya yang berpengaruh dalam penyebaran malaria adalah faktor iklim. Adanya kelembapan yang tinggi juga mempengaruhi nyamuk untuk mencari tempat yang lembap dan basah di luar rumah sebagai tempat hinggap istirahat pada siang hari.
Keterbatasan sumber daya juga menjadi faktor penyebab tingginya angka penderita malaria di wilayah Indonesia bagian timur. Sumber daya yang dimaksud adalah dalam masalah tenaga medis dan juga dana kesehatan. Wilayah Indonesia timur memiliki keterbatasan pelayanan kesehatan jika dibandingkan dengan wilayah Indonesia barat dan tengah.

B.     Kesimpulan
Kasus malaria masih menjadi perhatian penting bagi Indonesia, khususnya di wilayah Indonesia bagian timur. Malaria tersebar di kalangan sosial ekonomi rendah, seperti petani dan nelayan. Hal ini didukung oleh kondisi geografis di pedesaan, wilayah kepulauan yang sulit dijangkau antardaerah, dan keterbatasan pelayanan kesehatan di wilayah Indonesia bagian timur.
Pemerintah perlu menguatkan mutu layanan dan akses kesehatan di Indonesia Timur untuk memeratakan penanggulangan malaria tersebut. Di samping itu, perlu disediakan kelambu berinsetisida untuk masyarakat guna menekan laju penularan penyakit malaria.


Sumber :
Hidajah, dkk. Dinamika Penularan Malaria di Daerah Berbatasan. Surabaya : Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Airlangga, 2006

Site search

    Followers

    Categories